logo
blog
* Andien Aisyah | Foto: IG

Andien Jadikan Royalti NFT Lagu sebagai Modal Awal Sekolah Anak Percaya

Bagikan: X Twitter

JAKARTA - Penyanyi Andien Aisyah memanfaatkan royalti aset digital dari lagu "Percaya" sebagai modal awal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya.

Berawal dari inisiatif sosial pada masa pandemi COVID-19, gerakan pendidikan gratis tersebut kini berkembang hingga membuka cabang kelima di kawasan Kampung Apung, Jakarta.

Andien mengungkapkan, pendanaan awal Sekolah Anak Percaya berasal dari penjualan royalti lagu "Percaya" melalui skema non-fungible token (NFT). Hasil penjualan aset digital tersebut kemudian digunakan untuk membiayai pendirian sekolah yang ditujukan bagi anak-anak dengan keterbatasan akses pendidikan.

"Waktu itu lagi zaman COVID, terus aku menjual lagu ini royaltinya dengan skema non-fungible token (NFT). Hasil dari NFT tersebut kemudian kami jadikan modal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya," kata Andien saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Ahad, 11 Oktober 2026.

NFT merupakan aset digital yang kepemilikan atau transaksinya tercatat dalam jaringan blockchain. Dalam skema royalti NFT, kreator dapat memperoleh persentase pendapatan ketika aset digitalnya dijual kembali di pasar sekunder, sesuai dengan ketentuan yang diterapkan melalui kontrak pintar dan didukung oleh platform terkait.

Pemanfaatan royalti karya musik tersebut menjadi langkah awal Andien dalam mengembangkan inisiatif pendidikan yang berfokus pada anak-anak dari kelompok masyarakat rentan.

Sekolah Anak Percaya pertama kali didirikan pada 2022 di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini terus diperluas untuk menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan akses belajar secara gratis.

Butuh Pendekatan Setahun untuk Membuka Sekolah

Cabang kelima Sekolah Anak Percaya kini hadir di Kampung Apung, kawasan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengupas kerang. Namun, pendirian fasilitas belajar di wilayah tersebut membutuhkan proses panjang, terutama untuk membangun kepercayaan masyarakat setempat.

Andien mengatakan, timnya melakukan pendekatan selama sekitar satu tahun sejak Oktober tahun sebelumnya sebelum kegiatan belajar mengajar dapat diselenggarakan.

"Dari tahun lalu itu PDKT-nya setahun untuk kita bisa menyelenggarakan proses belajar mengajar di kampung tersebut," tuturnya.

Keputusan membuka sekolah di Kampung Apung berangkat dari keprihatinan Andien terhadap tingginya angka anak putus sekolah di kawasan tersebut. Ia melihat bahwa persoalan akses pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan kemauan anak untuk belajar, tetapi juga dipengaruhi berbagai kendala sosial dan administratif.

"Masalahnya sangat berlapis, bukan hanya kemauan akan mengenyam pendidikannya saja, tapi juga ada banyak masalah mengenai misalnya administrasi kependudukan dan lain-lain," jelasnya.

Menurut Andien, persoalan yang kompleks tersebut kerap membuat pihak lain enggan terlibat dalam upaya penyediaan akses pendidikan bagi masyarakat di kawasan permukiman padat.

Komitmen Mencari Solusi Bersama Warga

Menghadapi berbagai hambatan tersebut, Andien memilih untuk terlibat langsung dan mencari jalan keluar bersama masyarakat. Ia menegaskan bahwa keterbatasan yang ada tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

"Ya udah kalau memang belum ada solusinya, justru aku yang ingin jadi solusinya. Yuk kita cari solusinya bareng," pungkasnya.

Perjalanan Sekolah Anak Percaya menunjukkan bagaimana royalti dari sebuah karya musik dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan awal untuk inisiatif sosial. Dari modal yang berasal dari lagu Percaya, Andien mengembangkan gerakan pendidikan gratis yang kini menjangkau lebih banyak anak, termasuk mereka yang tinggal di Kampung Apung, Jakarta. (*)

(HUMAS)